BAPETEN Bahas Strategi Pengelolaan Sumber Radioaktif di Akhir Masa Pakai Bersama Negara Kawasan Asia
Kembali 31 Agustus 2026 | Berita BAPETEN | 43 lihatBAPETEN bersama Office of Radiological Security (ORS)-U.S. Department of Energy (U.S-DOE) menyelenggarakan 2026 Focus Group on Strategizing the End-of-Life Management of Radioactive Sources: East Asia Regional Event di Jakarta pada Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 4 September 2026 ini mempertemukan regulator, lembaga teknis, industri, dan organisasi internasional untuk membahas strategi pengelolaan sumber radioaktif pada akhir masa pakai (End-of-Life Management/ELM).
Forum regional ini bertujuan mendorong pertukaran pengalaman antarnegara dalam memastikan sumber radioaktif tetap berada dalam kendali regulasi, mencegah munculnya orphan sources, serta memperkuat keamanan radiologi di kawasan. Kegiatan diikuti oleh perwakilan dari sejumlah negara di Asia, Amerika Serikat, serta IAEA.
Pembukaan kegiatan disampaikan oleh Plt. Kepala BAPETEN Zainal Arifin bersama Cassandra Peterson dari National Nuclear Security Administration (NNSA). Dalam sambutannya, Zainal menyampaikan bahwa pengelolaan sumber radioaktif pada akhir masa pakai merupakan tantangan yang dihadapi regulator di berbagai negara, mulai dari penguatan kerangka regulasi, metode pemindahan dan pengangkutan sumber, pengamanan rantai pasok, hingga ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.
Zainal juga membagikan pengalaman Indonesia dalam menghadapi kasus kontaminasi Cesium-137 pada 2025. Investigasi terhadap kasus tersebut mengidentifikasi keterkaitan dengan aktivitas peleburan besi tua di Cikande, Banten. Kasus tersebut menjadi salah satu pembelajaran penting mengenai risiko ketika sumber radioaktif yang sudah tidak digunakan tidak lagi berada dalam kendali dan masuk ke dalam sistem daur ulang informal.
Menurut Zainal, Indonesia telah mengambil sejumlah langkah korektif, termasuk penguatan pengawasan terhadap fasilitas pengolahan besi tua dan peningkatan deteksi radiasi di pelabuhan melalui kerja sama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam penyediaan fasilitas penyimpanan jangka menengah dan panjang bagi sumber radioaktif yang sudah tidak digunakan. Indonesia juga belum memiliki fasilitas pembuangan permanen.
“Tantangan ini bukan hanya persoalan Indonesia, tetapi merupakan persoalan kawasan yang membutuhkan solusi bersama di tingkat regional,” ujar Zainal. Menurutnya, keterbatasan fasilitas penyimpanan, keamanan transportasi, ketersediaan tenaga ahli, serta biaya pengembalian sumber kepada pemasok merupakan tantangan yang juga dihadapi negara-negara lain di kawasan.
Memasuki agenda berikutnya, peserta akan membahas berbagai pendekatan dalam pengelolaan sumber radioaktif pada akhir masa pakai, termasuk kerangka regulasi, pemindahan sumber beraktivitas tinggi, keamanan transportasi, return to supplier, konsolidasi dan penyimpanan, hingga strategi pembuangan. Forum juga akan diisi dengan working group untuk mengidentifikasi tantangan teknis, regulasi, sumber daya manusia, dan pembiayaan serta berbagi praktik dan pengalaman antarnegara.
Nantinya, pada 2 September 2026, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan technical site visit ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BJ Habibie BRIN Serpong. Dalam kunjungan tersebut, peserta dijadwalkan melihat fasilitas pengelolaan limbah radioaktif, reaktor riset, dan fasilitas produksi radioisotop.
Indonesia juga akan berkontribusi dalam forum melalui sejumlah presentasi dan studi kasus. BAPETEN dan BRIN akan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan limbah radioaktif dari perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Selain itu, BAPETEN akan menyampaikan materi mengenai kerangka regulasi yang ada, tantangan return to supplier, serta pengalaman ekspor dan pengiriman sumber radioaktif.
Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan diskusi kelompok antara BAPETEN dan tim ORS untuk memfinalisasi Focus Group Report yang memuat rekomendasi strategis pengelolaan End-of-Life Management di tingkat regional. Hasil forum diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengawasan BAPETEN dalam memitigasi risiko keamanan sumber radioaktif sekaligus memperkuat jejaring kerja sama regional dalam penanganan sumber radioaktif lintas batas.
Indonesia, sebagaimana disampaikan Zainal, hadir dalam forum ini sebagai mitra yang berkomitmen untuk terus belajar dan bekerja sama. Pertukaran pengalaman dan pembahasan teknis antarnegara diharapkan menghasilkan langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan untuk memperkuat pengelolaan sumber radioaktif dan meningkatkan keselamatan serta keamanan radiologi di kawasan. [BHKK/Da]









Komentar (0)