The 59th Annual Regular Session of The General Conference (GC) of The International Atomic Energy Agency (IAEA) berlangsung pada 14–18 September 2015 di Wina. Sidang Umum merupakan badan pengambil keputusan tertinggi IAEA yang terdiri dari perwakilan negara anggota dan bersidang setiap tahun untuk menyepakati program, anggaran, serta hal lain yang diajukan oleh Dewan Gubernur, Direktur Jenderal, atau anggota IAEA.
Selama penyelenggaraan Sidang Umum, dilakukan seminar, scientific forum, IAEA Events, Workshop and Exhibition yang terkait dengan pengembangan teknologi nuklir terkini. Pidato sambutan Delegasi Republik Indonesia, yang diketuai oleh Duta Besar Austria, Rahmad Budiman, antara lain menyampaikan apresiasi kepada IAEA terhadap langkah rencana yang lebih komprehensif untuk kerjasama E3+3 dan Iran yang telah mengadopsi The Security Council Resolution 2331. Selain itu, di bidang pertanian, Indonesia mendukung plant mutation breeding dan untuk itu Indonesia mendapat penghargaan dari IAEA dan FAO.
Sebagai bagian dari Delegasi Republik Indonesia, delegasi BAPETEN terdiri dari Kepala BAPETEN, Jazi Eko Istiyanto, Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir, Yus Rusdian Akhmad, Sekretaris Utama, Hendriyanto Hadi Tjahyono, dan Kepala Biro Perencanaan, Farid Arif Binaruno. Selama Sidang Umum berlangsung, delegasi BAPETEN mengikuti 19 side events yang antara lain berupa pertemuan dengan badan pengawas nuklir (NRC, Arpansa, GRS, CNSA dan Rostechnadzor), serta pertemuan dengan berbagai divisi IAEA.
Sidang Umum ini ditutup dengan pengesahan beberapa resolusi, antara lain: resolusi 6 tentang Technical Cooperation Fund Allocation for 2016, dan penetapan BPK RI sebagai external auditor IAEA. Direktur Jenderal IAEA dalam pidatonya mengapresiasi BATAN yang telah membantu gempa bumi di Nepal dengan menyediakan makanan aman yang telah diiradiasi, melalui kerjasama South-South bekerja sama dengan FAO/IAEA research project. [BHO/MR]