Banner BAPETEN
Prospek PLTN dalam Memenuhi Kebutuhan Listrik yang Terjangkau
Kembali 03 Agustus 2010 | Berita BAPETEN
bdi_030810115853.jpg

(Jakarta,BAPETEN) 

bdi_030810115643.jpgMeskipun energi nuklir sudah menjadi keniscayaan dunia sebagai energi alternatif, tetapi masalah yang tersisa masih menumpuk. Dinamika perkembangannya, sudah dinikmati oleh sebagian besar Negara-negara maju terutama di bidang penyediaan energi pembangkit listrik sebagai sarana pendukung industri dan kesejahteraan kehidupan masyarakat.

Menurut catatan, jumlah reaktor nuklir di dunia sudah hampir mencapai 400-an. Semua digunakan untuk kepentingan damai sebagai pasokan energi listrik untuk industri. Tetapi yang cukup mengherankan, masih ada negara-negara yang terkendala haknya untuk membangun instalasi nuklir di negerinya, meskipun mereka meniatkannya untuk kepentingan damai. Contohnya Iran. Di negara kita yang menjadi hambatan adalah rasa takut yang berlebihan (nuclearophobia}. Masyarakat antinuklir kurang memahami perkembangan energi dunia dengan digunakannya banyak reaktor nukilr yang selama ini aman-aman saja karena sudah berhasil “dijinakkan”. Kita lupa kenukliran telah memasuki generasi ke-4 dengan penyempurnaan keamanan semaksinal mungkin. Rasanya sebelum membangun nuklir kita harus lebih dulu membangun rasa percaya diri. Dan membuang rasa takut yang lebay. Jika di Asia Tenggara Negara-negara lain membangun PLTN kita akan menjadi Negara yang paling tertinggal industrinya di kawsan Asean.
Forum Group Discussion tentang “Prospek PLTN dalam Memenuhi Kebutuhan Listrik yang Terjangkau”, yang diadakan oleh Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek) bekerjasama dengan PT. PLN dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengadakan Diskusi Panel tentang Prospek PLTN untuk memenuhi kebutuhanListrik yang terjangkau.
Acara diadakan Senin, 2 Agustus 2010 ini di gedung I BPPT, Jl. M.H. Thamrin Jakarta. Dihadiri Kepala Batan diwakili Dr. Adi Wardoyo mengawali acara dengan presentai tentang “Teknologi PLTN Terkini” Kalau PLTN berdiri karena ini sudah komersil sifatnya, tidak mungkin dipegang oleh Batan. Siapa yang akan menjadi pengelola  sedang kita tunggu, Saat ini teknologi PLTN sudah masuk generasi ke IV, Jadi secara teknologis dan pengamanan sudah teruji.
imgkonten
Kepala Bapeten Dr. As Natio Lasman tentang “Peranan Bapeten dalam Memper-siapkan Pengawasan Pembangunan PLTN di Indonesia” dalam presentasinya menyampaikan bahwa banyak peraturan yang telah dibuat dalam rangka memenuhi unsur Safety, Security dan Safeguard di antaranya mulai dari evaluasi tapak reaktor daya untuk aspek kegempaan sampai sistem manajemen fasilitas dan kegiatan ketenaganukliran, Berbasis pengalaman mengelola reaktor riset, di mana reaksi fisi yang terjadi sama dengan yang terjadi pada PLTN, diyakini bahwa SDM Indonesia mampu mengelola PLTN dengan baik.
Namun demikian, Dewan Energi Nasional Dr. Rinaldy Dalimy menyatakan  Indonesia tidak perlu membangun PLTN. "Toh kita bisa tanpa PLTN, Indonesia punya sumber-daya energi terbarukan yang dapat menggantikan nuklir seperti biofuel, tenaga air, dan panas bumi," katanya dalam diskusi tersebut. Dr. Murtaqi Syamsuddin dari PLN dalam “Pertumbuhan Listrik Nasional dan Pandangan Penggunaan PLTN” menyampaikan bahwa PLN sebagai Off taker atas energi listrik yang akan dihasilkan oleh PLTN dan PLN lebih bersifat ‘wait and see’, namun terus berupaya mengikuti kegiatan nasional / pemerintah menyangkut persiapan pengembangan tenaga nuklir.
Acara dihadiri oleh 30 orang peserta dari instansi pemerintah, akademisi dan wartawan serta dari berbagai media.

Sumber : Humas

Tautan BAPETEN

mkananmenu_2020-12-03-221220.jpg
mkananmenu_2020-12-03-221250.jpg
mkananmenu_2021-04-19-125003.png
mkananmenu_2021-04-19-125235.png
mkananmenu_2021-08-25-114254.png
mkananmenu_2022-02-16-162808.png

Feedback

GPR Kominfo

Video

Tautan Internasional

Tautan LPNK