Kesiapan Jepang Mengatasi Kecelakaan Nuklir Saat Gempa dan Tsunami
Kembali 14 Maret 2011 | Berita BAPETEN(Jakarta,BAPETEN)
Manusia memetik pengetahuan dari alam semesta. Keterbatasan indera dan pikiran melahirkan sangkaan, hipotesa, asumsi. Hal yang benar-benar nyata hanya bisa diketahui ketika peristiwa terjadi. Seperi gempa dan tsunami di Jepang. Tingginya intensitas gempa di Jepang menjadikan pemerintah dan masyarakatnya sudah memikirkan alam dan dampaknya bila terjadi musibah.
Pada
satu sisi cara pandang ini meyakini bahwa alam bersifat rasional,
menaati hukum yang masuk akal. Selain
Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana juga memadai,
sehingga respons
time bisa cepat dalam menghadapi Kecelakaan Nuklir yaitu dua
dari lima PLTN di Prefektur Fukushima yang berjarak 240 kilo meter
dari ibu kota Jepang, Tokyo sekitar pukul 15.30, Sabtu (12/3) waktu
setempat, meledak. Pemerintah Jepang menetapkan negara dalam status
darurat nuklir untuk
penyelamatan.
Meledaknya PLTN tersebut disebabkan matinya sistem pendingin yang menyebabkan tekanan naik 20 kali lipat dari tekanan normal. Terkait hal itu, TV One melalui program “Apa Kabar Indonesia†yang disiarkan secara langsung pada jam 07.30-08.30 WIB, mengundang Kepala BAPETEN Dr. As Natio Lasman sebagai narasumber kompeten.
Meledaknya PLTN tersebut disebabkan matinya sistem pendingin yang menyebabkan tekanan naik 20 kali lipat dari tekanan normal. Terkait hal itu, TV One melalui program “Apa Kabar Indonesia†yang disiarkan secara langsung pada jam 07.30-08.30 WIB, mengundang Kepala BAPETEN Dr. As Natio Lasman sebagai narasumber kompeten.
Menghadapi
hal ini, Jepang memperluas zona evakuasi 10 km dari reaktor yaitu
sampai 20 km. Perluasan zona ini disebabkan antisipasi dari
partikel-partikel yang lepas ke udara. Menurut Dr. As Natio Lasman, angin di sekitar wilayah
tersebut hanya berkecepatan 0,5 km per jam,
hasil komunikasi jam 02.00 WIB atau jam 04.00 waktu setempat. Dengan
demikian dampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan karena kesempatan
untuk mengevakuasi dapat diatasi dengan sebaik-baiknya.
"Dalam proses evakuasi diperiksa setiap orang yang baru keluar dari zona tersebut, jika ada yang terpapar radiasi langsung diamankan, misalnya pakaian langsung dibersihkan atau dicopot. Untuk orang yang terpapar radiasi diisolasi, diberi gizi yang baik agar metabolisme tubuhnya meningkat, sehingga jika ada anomali (kelainan/kerusakan syaraf) dapat segera diatasi oleh daya tahan tubuh,†tegasnya. Di sinilah kita menyadari betapa sempurna penciptaan manusia dalam mengatasi kelainan dalam dirinya sendiri.
"Kita berharap semoga dapat segera turun hujan sehingga partikel yang terlepas di udara dapat turun dan tidak menyebar. Ini akan memudahkan zona evakuasi. Dalam hal ini dapat kita ambil hikmah dan pelajaran bagi Indonesia yang terletak pada Ring of Fire (cincin api) baik dalam perencanaan maupun pengelolaan PLTN kelak dalam hal Kesiapsiagaan. Faktor kejadian (musibah) alam terburuk akan bisa menjadikan pembelajaran dan pertimbangan,†tambah Kepala BAPETEN.
"Dalam proses evakuasi diperiksa setiap orang yang baru keluar dari zona tersebut, jika ada yang terpapar radiasi langsung diamankan, misalnya pakaian langsung dibersihkan atau dicopot. Untuk orang yang terpapar radiasi diisolasi, diberi gizi yang baik agar metabolisme tubuhnya meningkat, sehingga jika ada anomali (kelainan/kerusakan syaraf) dapat segera diatasi oleh daya tahan tubuh,†tegasnya. Di sinilah kita menyadari betapa sempurna penciptaan manusia dalam mengatasi kelainan dalam dirinya sendiri.
"Kita berharap semoga dapat segera turun hujan sehingga partikel yang terlepas di udara dapat turun dan tidak menyebar. Ini akan memudahkan zona evakuasi. Dalam hal ini dapat kita ambil hikmah dan pelajaran bagi Indonesia yang terletak pada Ring of Fire (cincin api) baik dalam perencanaan maupun pengelolaan PLTN kelak dalam hal Kesiapsiagaan. Faktor kejadian (musibah) alam terburuk akan bisa menjadikan pembelajaran dan pertimbangan,†tambah Kepala BAPETEN.
Sumber : Humas