BAPETEN melakukan pengawasan tenaga nuklir dalam bidang kesehatan untuk melindungi pasien, petugas, dan masyarakat dari bahaya radiasi yang dapat ditimbulkan dalam pemanfaatannya. Penggunaan radiasi berbahaya apabila digunakan melebihi ambang batas yang telah ditentukan.
Berangkat dari hal tersebut, BAPETEN bekerja sama dengan IAEA menggelar National Workshop on Justification and Optimization in Clinical Diagnostic Imaging of Patients, di Jakarta, Senin (17/9/2018) pagi.
Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir Yus Rusdian Akhmad, membuka resmi workshop yang diagendakan berlangsung selama 5 hari ini. Peserta berasal dari sejumlah perwakilan seperti Kemenkes, Batan, akademisi, asosiasi profesi, dan praktisi medik di rumah sakit. Sejumlah pembicara dari IAEA, Inggris, Australia, serta Swedia juga tampak hadir dalam kesempatan ini.
Tujuan digelarnya workshop ini untuk menumbuhkan awareness agar penggunaan radiasi pengion tidak dilakukan secara sembarangan. Meski radiasi yang diterima pasien memberikan manfaat, namun radiasi yang diberikan serendah mungkin.
Melalui ajang ini dapat menggugah praktisi medis di rumah sakit agar aware dengan penggunaan radiasi. Hal ini tidak lain agar pasien terlindungi, selaras dengan Program Prioritas 1 BAPETEN yaitu Penguatan Jaminan Perlindungan Keselamatan Pasien Radiologi.
Agenda workshop hari 1 dan 2 untuk praktisi medis kesehatan, hari 3 dan 4 untuk regulator, kemudian hari 5 untuk para manager regulator khususnya BAPETEN. Diharapkan BAPETEN sebagai regulator membuat kebijakan tepat sasaran dan mudah diimplementasikan.
BAPETEN sendiri juga sudah memiliki kegiatan yang menunjang workshop ini seperti justifikasi dan optimisasi sekaligus program database si Intan yang turut menunjang implementasi optimisasi proteksi.(bho/sup/pd)